TULISAN
EKONOMI KOPERASI
Dosen
: Hadir Hudiyanto
Disusun oleh :
Nama : Bryn Artha Patria
NPM : 28212399
Kelas : 2EB18
Fakultas Ekonomi
- Akuntansi
Universitas
Gunadarma
INFLASI
Pendauluan
Inflasi
di dunia ekonomi modern sangat memberatkan masyarakat. Hal ini dikarenakan
inflasi dapat mengakibatkan lemahnya efisiensi dan produktifitas ekonomi
investasi, kenaikan biaya modal, dan ketidakjelasan ongkos serta pendapatan di
masa yang akan datang. Keberadaan permasalahan inflasi dan tidak stabilnya
sektor riil dari waktu ke waktu senantiasa menjadi perhatian sebuah rezim
pemerintahan yang berkuasa serta otoritas moneter . Lebih dari itu, ada
kecenderungan inflasi dipandang sebagai permasalahan yang senantiasa akan
terjadi . Hal ini tercermin dari kebijakan otoritas moneter dalam menjaga
tingkat inflasi. Setiap tahunnya otoritas moneter senantiasa menargetkan bahwa
angka atau tingkat inflasi harus diturunkan menjadi satu digit atau inflasi
moderat.
Permasalahan
tersebut menimbulkan reaksi para ahli ekonomi Islam modern, seperti Ahmad Hasan,
Hifzu Rab, dan Umar Vadillo, yang
menyerukan penerapan kembali mata uang dînâr dan dirham sebagai
jalan keluar penyelesaian kasus-kasus transaksi inflasioner di dunia ekonomi
modern. Mereka beralasan bahwa mata uang logam mulia dînâr dan dirham dapat
menjamin keamanan transaksi karena keduanya memberikan keseimbangan nilai
terhadap setiap komoditas yang ditransaksikan. Gagasan ini memberikan akses
terwujudnya ekonomi makro yang kuat dengan dukungan penuh mata uang yang
berbasis kekuatan riil materialnya. Terjadinya inflasi dapat mendistorsi
harga-harga relatif, tingkat pajak, suku bunga riil, pendapatan masyarakat akan
terganggu, mendorong investasi yang keliru, dan menurunkan moral. Maka dari
itu, mengatasi inflasi merupakan sasaran utama kebijakan moneter.
Pengaruh inflasi cukup besar pada kehidupan ekonomi, inflasi merupakan salah
satu masalah ekonomi yang banyak mendapat perhatian para ekonom, pemerintah,
maupun masyarakat umum. Berbagai teori, pendekatan dan kebijakan dikembangkan
supaya inflasi dapat dikendalikan sesuai dengan yang diinginkan.
ISI
A. Pengertian Inflasi
Inflasi
mempunyai pengertian sebagai sebuah gejala kenaikan harga barang yang bersifat umum
dan terus-menerus. Inflasi adalah proses kenaikan harga-harga secara
terus-menerus yang bersumber dari terganggunya keseimbangan antara arus uang
dan barang. Dari pengertian ini, inflasi mempunyai penjelasan bahwa inflasi
merupakan suatu gejala dimana banyak terjadi kenaikan harga barang yang terjadi
secara sengaja ataupun secara alami yang terjadi tidak hanya di suatu tempat,
melainkan diseluruh penjuru suatu negara bahkan dunia. Kenaikan harga ini
berlangsung secara berkesinambungan dan bisa makin meninggi lagi harga barang
tersebut jika tidak ditemukannya solusi pemecahan penyimpangan – penyimpangan
yang menyebabkan terjadinya inflasi tersebut.
Perlu
diingat bahwa kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut
inflasi.
·Inflasi Ringan (Di bawah 10% setahun)
·Inflasi
Sedang
·Inflasi
Berat ( antara 50-100% setahun)
·Hiper
Inflasi (di atas 100% setahun)
Laju inflasi dapat berbeda
antara satu Negara dengan Negara lainnya atau dalam
satu Negara dalam waktu yang berbeda. Atas dasar besarnya laju inflasi maka
Inflasi dapat di bagi ke dalam tiga kategori yaitu :
ü Inflasi
merayap (creeping Inflation)
Di tandai dengan laju inflasi yang rendah
(kurang dari 10% pertahun). Kenaikan harga berjalan secara lambat, dengan
persentase yang kecil serta dalam jangka yang relatif lama.
ü Inflasi
Menengah (galloping Inflation)
Ditandai dengan laju inflasi yang cukup besar
dalam waktu yang relatif pendek serta mempunyai sifat akselerasi (harga dalam
waktu mingguan atau bulanan) efeknya terhadap perekonomian lebih besar daripada
inflasi yang merayap (creeping inflation)
ü Inflasi
tinggi (Hyper inflation)
Merupakan inflasi yang paling parah akibatnya
harga-harga naik sampai 5 atau 6 kali lipat. Masyarakat tidak lagi berkeinginan
untuk menyimpan uang sebab nilai uang merosot dengan tajam sehingga perputaran
uang semakin cepat dan harga naik secara akselerasi. Biasanya keadaan ini
timbul apabila pemerintah mengalami defisit anggaran belanja yang dibelanjakan
dan ditutupi dengan mencetak uang.
·
Berdasar
Sebab musabab awal dari Inflasi
ü Inflasi
permintaan (Demand
Inflasi) yang timbul karena
permintaan masyarakat akan berbagai barang bertambah terlalu kuat akibat
tingkat harga umum naik (misalnya karena bertambahnya pengeluaran perusahaan).
ü Inflasi
biaya (cost-Push inflation)
Inflasi jenis ini timbul karena kenaikan ongkos produksi.
Inflasi ini dikenal dengan istilah cost-push inflation atau
supply inflation. Untuk lebih jelasnya simak baik-baik kurva di atas. Apabila
ongkos produksi ini misalnya disebabkan kenaikan harga alat-alat produksiyang
didatangkan dari luar negeri atau kenaikan bahan mentah maupun bahan baku.
ü inflasi
campuran
Kedua mmacam inflasi
yang telah dijelaskan di atas jarang sekali di jumpai dalam praktik
sehari-hari. Pada umumnya, inflasi yang terjadi di berbagai negara merupakan
campuran dari kedua macam inflasi tersebut. Inflasi campuran merupakan campuran
antara inflasi permintaan (demand-pull inflation) dan inflasi biaya (cost-push
inflation).
·
Berdasar
asal dari inflasi
ü Domestic
Inflation, Inflasi yang berasal dari dalam negeri
Domestic Inflation (inflasi
domestik) adalah inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestik). Kenaikan
harga disebabkan karena adanya perilaku masyarakat maupun perilaku pemerintah
dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan. Kenaikan harga-harga tejadi secara
absolut yang berdampak terjadinya inflasi atau semakin meningkatnya angka
(laju) inflasi.
ü Imported
Inflation, Inflasi yang berasal dari luar negeri
Imported Inflation adalah inflasi
yang terjadi di dalam negeri karena adanya pengaruh kenaikan harga dari luar
negeri. Kenaikan harga di dalam negeri terjadi karena dipengaruhi oleh kenaikan
harga dari luar negeri terutama barang-barang impor atau kenaikan bahan baku
industri yang masih belum dapat diproduksi di dalam negeri. Kenaikan Indeks
Harga Luar Negeri (IHLN) akan mengakibatkan kenaikan pada Indeks Harga Umum
(IHU) dan Indeks Harga Dalam Negeri (IHDN) yang secara otomatis ikut
mempengaruhi laju pertumbuhan inflasi di dalam negeri.
C.
Faktor
Penyebab Timbulnya Inflasi
ü Jumlah uang beredar
Menurut
sudut pandang kaum moneteris jumlah uang beredar adalah faktor utama yang di
tuding sebagai penyebab timbulnya inflasi di setiap Negara berkembang, tidak
terkecuali di Indonesia. Di Indonesia jumlah uang beredar ini lebih banyak
diterjemahkan dalam konsep narrow money (MI). Hal ini terjadi karena masih
adanya tanggapan, bahwa uang dikuasai hanya merupakan bagian dari likuiditasi
perbankan. Sejak tahun 1976 presentase uang kuartal yang beredar (48,7%) lebih
kecil daripada presentase jumlah uang giral yang beredar (51,3%).sehingga
mengindikasikan bahwa telah terjadi proses modernisasi di sektor moneter
Indonesia juga mengindikasikan bahwa semakin sulitnya proses pengendalian
jumlah uang beredar di Indonesia, dan semakin meluasnya moneterisasi dalam
kegiatan perekonomian subsisten, akibatnya memberikan kecenderungan
meningkatnya laju inflasi. Menurut data yang dihimpun dalam Laporan Bank Dunia
menunjukan laju pertumbuhan rata-rata jumlah uang beredar di Indonesia pada
periode tahun 1980-1992 relatif tinggi jika dibandingkan dengan Negara-negara
ASEAN lainnya (kecuali Filipina).kenaikan jumlah uang beredar di Indonesia pada
tahun 1970-an sampai awal tahun 1980-an lebih disebabkan oleh pertumbuhan
kredit likuiditas dan defisit anggaran belanja pemerintah. Pertumbuhan ini
dapat merupakan efek langsung dari kebijakan Bank Indonesia dalam sector
keuangan (terutama dalam hal penurunan reserve requirement)
ü Defisit Anggaran Belanja Pemerintah
Seperti
halnya yang umum terjadi pada Negara berkembang, anggaran belanja pemerintah
Indonesia pun sebenarnya mengalami defisit, meskipun Indonesia menganut prinsip
anggaran berimbang. Defisitnya anggaran belanja ini banyak sekali disebabkan
oleh hal-hal yang menyangkut keterangan struktural ekonomi Indonesia, yang acap
kali menimbulkan kesenjangan antara kemauan dan kemampuan untuk membangun.
Selama pemerintahan Orde lama defisit anggaran belanja ini acapkali di biaya
dari dalam negeri dengan cara melakukan pencetakan uang baru, mengingat
orientasi kebijaksanaan pembangunan ekonomi yang inward looking policy,
sehingga menyebabkan tekanan inflasi yang hebat, tetapi sejak era Orde Baru,
defisit anggaran belanja ini di tutup dengan pinjaman luar negeri yang nampaknya
relatif aman terhadap tekanan inflasi.
Dalam
era pemerintahan Orde baru, kebutuhan terhadap percepatan pertumbuhan ekonomi
yang telah dicanangkan sejak Pembangunan Jangka Panjang, menyebabkan kebutuhan
dana untuk melakukan pembangunan sangat besar. Dengan mengingat bahwa potensi
mobilisasi dana pembangunan dari masyarakat (baik dari sektor tabungan
masyarakat maupun pendapatan pajak) di dalam negeri pada saat itu yang sangat
terbatas (belum berkembang), juga kemampuan sector swasta yang terbatas dalam
melakukan pembangunan, menyebabkan pemerintah harus berperan sebagai motor
pembangunan. Hal ini menyebabkan pos pengeluaran APBN menjadi lebih besar
daripada penerimaan rutin. Artinya, peran pengeluaran pemerintah dalam
investasi tidak dapat di imbangi dengan penerimaan, sehingga menimbulkan
kesenjangan antara pengeluaran dan penerimaan Negara, atau dapat dikatakan
telah defisit struktural dalam keuangan Negara.
·
Penyebab Inflasi, dapat dibagi menjadi :
ü Demand Side Inflation, yaitu disebabkan oleh
kenaikan permintaan agregat yang melebihi kenaikan penawaran agregat
ü Supply Side Inflation, yaitu
disebabkan oleh kenaikan penawaran agregat yang melebihi permintaan agregat
ü Demand Supply Inflation,
yaiti inflasi yang disebabkan oleh kombinasi antara kenaikan permintaan agregat
yang kemudian diikuti oleh kenaikan penawaran agregat,sehingga harga menjadi
meningkat lebih tinggi
ü Supressed Inflation atau Inflasi yang
ditutup-tutupi, yaitu inflasi yang pada suatu waktu akan timbul
dan menunjukkan dirinya karena harga-harga resmi semakin tidak relevan dalam
kenyataan.
D.
Efek Yang Ditimbulkan Dari Inflasi
ü
Efek terhadap pendapatan (Equity Effect)
Efek terhadap pendapatan
sifatnya tidak merata, ada yang dirugikan tetapi ada pula yang di untungkan
dengan adanya Inflasi. Seseorang yang memperoleh pendapatan tetap akan
dirugikan oleh adanya inflasi. Misalnya seorang yang memperoleh pendapatan
tetap Rp. 500.000,00 per tahun sedang laju inflasi sebesar 10%, akan menderita
kerugian penurunan pendapatan riil sebesar laju inflasi tersebut, yakni
Rp.50.000,00
ü
Efek terhadap efisiensi (Efficiency Effect)
Inflasi dapat pula mengubah
pola alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan ini dapat terjadi melalui
kenaikan permintaan akan berbagai macam barang yang kemudian dapat mendorong
terjadinya perubahan dalam produksi beberapa barang tertentu sehingga
mengakibatkan alokasi faktor produksi menjadi tidak efisien.
ü
Efek terhadap Output (Output Effect)
Dalam menganalisa kedua
efek diatas (Equity dan Efficiency Effect) digunakan suatu anggapan bahwa
output tetap. Hal ini dilakukan supaya dapat diketahui efek inflasi terhadap
distribusi pendapatan dan efisiensi dari jumlah output tertentu tersebut.
ü
Inflasi dan Perkembangan Ekonomi.
Inflasi yang tinggi
tingkatnya tidak akan menggalakan perkembangan ekonomi. Biaya yang terus
menerus naik menyebabkan kegiatan produktif sangat tidak menguntungkan. Maka
pemilik modal biasanya lebih suka menggunakan uangnya untuk tujuan spekulasi.
Antara lain tujuan ini dicapai dengan pembeli harta-harta tetap setiap tanah,
rumah dan bangunan. Oleh karena pengusaha lebih suka menjalankan kegiatan
investasi yang bersifat seperti ini, investasi produktif akan berkurang dan
tingkat kegiatan ekonomi menurun. Sebagai akibatnya lebih banyak pengangguran
akan terwujud.
ü
Inflasi dan Kemakmuran masyarakat.
Disamping menimbulkan efek
buruk di atas kegiatan ekonomi Negara, inflasi juga akan menimbulkan efek-efek
berikut kepada individu masyarakat :
a.
Inflasi akan menimbulkan pendapatan riil orang-orang yang berpendapatan tetap.
b.
Inflasi akan mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang.
c.
Memperburuk pembagian kekayaan.
E.
Cara Mencegah Inflasi
ü
Kebijakan
Moneter
Kebijakan
ini adalah kebijakan yang berasal dari bank sentral dalam mengatur jumlah uang
yang beredar melalui instrument-instrumen moneter yang dimiliki oleh bank
sentral. Melalui instrument ini diharapkan peredaran uang dapat diatur dan
inflasi dapat di kendalikan sesuai dengan yang telah ditargetkan sebelumnya.
Terdapat tiga kebijakan yang dapat di tempuh bank sentral dalam mengatur
inflasi :
·
Kebijakan Diskonto.
Kebijakan
diskonto (discount policy) adalah kebijakan bank sentral untuk
mempengaruhi peredaran uanng dengan jalan menaikkan dan menurunkan tingkat
bunga. Kaitannya dengan bank syari'ah yaitu dengan jalan menaikkan dan
menurunkan tingkat nisbah bagi hasil.
·
Operasi Pasar
Terbuka.
Yaitu
dengan jalan membeli dan menjual surat-surat berharga.
·
Kebijakan
Persediaan Kas (cash ratio policy).
Yaitu
kebijakan bank sentral untuk mempengaruhi peredaran uang dengan jalan menaikkan
dan menurunkan presentasi persediaan kas dari bank.
ü
kebijaksanaan
Fiskal
Kebijaksanaan fiskal
menyangkut pengaturan tentang pengeluaran pemerintah serrta perpajakan yang
secara langsung dapat mempengaruhi permintaan total dan dengan demikian akan
mempengaruhi harga. Inflasi dapat dicegah melalui penurunan permintaan total.
Kebijakan fiskal yang berupa pengurangan pengeluaran pemerintah serta kenaikan
pajak akan dapat mengurangi permintaan total, sehingga inflasi dapat ditekan.
ü
Kebijaksanaan
yang berkaitan dengan Output.
Kenaikan Output dapat
memperkecil laju inflasi. Kenaikan jumlah output ini dapat dicapai misalnya
dengan kebijaksanaan penurunan bea masuk sehingga impor barang cenderung
meningkat. Bertambahnya jumlah barang didalam negeri cenderung menurunkan
harga.
ü
kebijaksanaan
Penentuan Harga dan Indexing.
Ini dilakukan dengan
penentuam ceiling harga, serta mendasarkan pada indeks harga tertentu untuk
gaji ataupun upah (dengan demikian gaji/upah secara riil tetap). Kalau indeks
harga naik maka gaji/upah juga dinaikan.
ü Kebijakan Lain
·
Peningkatan
Produksi.
Meski
jumlah uang beredar bertambah jika di iringi dengan peningkatan produksi, maka
tidak akan menyebabkan inflasi. Bahkan hal ini menunjukkan adanya peningkatan
kemampuan ekonomi.
·
Kebijakan Upah.
Inflasi
dapat diatasi dengan menurunkan pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable
income) masyarakat.
·
Pengawasan Harga.
Kecenderungan
dinaikkannya harga oleh pengusaha dapat diatasi dengan adanya pengawasan harga
pasar.
ü Perbaikan Prilaku Masyarakat
Dalam
mengatasi inflasi, selain kebijakan-kebijakan di atas perlu adanya perbaikan
prilaku masyarakat. Sesungguhnya stabilitas nilai mata uang tidak
didasarkan kepada zat mata uang, sehingga berefek pada tindakan revolusioner
yang mengubah seluruh zat mata uang dari kertas ke logam mulia emas dan perak,
melainkan dengan perbaikan perilaku ekonomi manusia yang berada di sekitar mata
uang tersebut.
Ciri
kerusakan mata uang dînâr-dirham dan mata uang kertas adalah
sama, yakni sama-sama diakibatkan oleh perilaku ekonomi yang destruktif. Mata
uang dînâr-dirham pernah rusak karena penimbunan dan
pemalsuan, sedangkan mata uang kertas pernah rusak karena pembungaan dan
spekulasi. Krisis moneter di akhir tahun sembilan puluhan dan krisis global
yang terjadi baru-baru ini, bersumber dari pembungaan dan spekulasi tersebut.
Sedangkan
menurut M. Hatta setidaknya ada tujuh kebijakan moneter Islam yang dapat
mengendalikan inflasi baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu: Dinar
dan dirham sebagai mata uang, hukum jual beli mata uang asing, hukum pertukaran
mata uang, hukum bunga, hukum pasar modal, hukum perbankan, hukum pertukaran
internasional, dan otoritas kebijakan moneter
F. Cara Mengatasi Inflasi
Untuk
mengatasi terjadinya Inflasi, bisa dilakukan kebijakan uang ketat meliputi :
1.
Peningkatan tingkat suku bunga
2.
Penjualan surat berharga
3.
Peningkatan cadangan Kas
4.
Pengetatan pemberian kredit
Dalam
pemulihan makro ekonomi, tim ekonomi pemerintah harus mampu menciptakan
kestabilan makro ekonomi, dengan menekan inflation rate menjadi single digit,
sekitar 8%. Makro ekonomi yang menyangkut tiga komponen yaitu interest rate,
inflation rate dan exchange rate, yang semuanya saling tergantung dan saling
mempengaruhi satu sama lain. Di sisi lain, dengan diturunkannya BI rate, hal
tersebut berpengaruh pada turunnya suku bunga perbankan dan akan mendorong
investor menanamkan investasi lebih banyak. Aktivitas perekonomian terus
berputar. Dengan demikian akan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang
besar secara bertahap, sehingga pendapatan masyarakat akan ikut naik. Dalam
rangka menungkatkan iklim investasi secara nasional guna menanggulangi dan
meningkatkan di sektor riil.
G. Peran
Bank Sentral
Bank
sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral
suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat
yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen
dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar
bank sentral termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi
menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen. salah satunya disebabkan intervensi
pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong
perekonomian akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.
Bank
sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga
sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga
berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini
disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan
oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation
targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh
Bank Indonesia.
PENUTUP
1.
inflasi merupakan suatu gejala dimana banyak terjadi kenaikan harga barang yang
terjadi secara sengaja ataupun secara alami yang terjadi tidak hanya di suatu
tempat, melainkan diseluruh penjuru suatu negara bahkan dunia
2.
Faktor-faktor Penyebab Timbulnya
Inflasi karena Jumlah uang beredar, defisit anggaran belanja
pemerintah
3.
Efek yang ditimbulkan dari Inflasi yaitu:
ü
Efek terhadap pendapatan (Equity Effect),
ü
Efek terhadap efisiensi (Efficiency Effect),
ü
Efek terhadap Output (Output Effect),
ü
Inflasi dan Perkembanngan Ekonomi,
ü
Inflasi dan Kemakmuran masyarakat.
4.
Cara mencegah Inflasi
Dengan kebijakan
moneter, kebijaksanaan fiskal, kebijaksanaan yang berkaitan dengan
Output, kebijaksanaan Penentuan Harga dan Indexing, kebijakan lain,
perbaikan prilaku masyarakat.
5.
Cara mengatasi Inflasi
Untuk mengatasi terjadinya
Inflasi, bisa dilakukan kebijakan uang ketat meliputi :
1. Peningkatan tingkat suku
bunga.
2. Penjualan surat
berharga.
3. Peningkatan cadangan
Kas.
4. Pengetatan pemberian
kredit.
6. Peranan Bank Sentral
bank sentral berkewajiban mengendalikan tingkat nilai
tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang
dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal
(kurs).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar